CATATAN PERJALANAN
PENELUSURAN NASKAH LONTARA
DI KABUPATEN PINRANG

Oleh : H.A.Ahmad Saransi
(Catatan Harian Perjalanan)

(Surat Andi Ibrahim Bau Massepe yg ditujukan kepada H. Paewa)

Ada beberapa catatan menarik yang saya temukan ketika saya merapikan buku dan dokumen saya (14 Mei 2020). Salah satunya adalah catatan perjalanan saya ke Pinrang pada tahun 1994 dalam rangka penelusuran naskah lontara guna pelaksanaan Proyek Mikroflm Naskah Lontara Universitas Hasanuddin bekerjasama dengan Ford Fundation.
Perjalanan itu adalah yg kedua kalinya, sedang yg pertama kalinya saya ke Pinrang pada tahun 1986, waktu itu saya masih mahasiswa bersama Abd. Latif (Mantan Dosen Ilmu Sejarah Unhas) dan Agus Sukri (1!!1!Pengurus Pusat Partai Nasdem) dalam rangka pencarian dana guna mengikuti Seminar Nasional Sejarah di UI Jakarta. 
Dalam perjalan itu saya sempat berkunjung ke Bendungan Benteng. Namun saya cuma bermalam satu malam saja karena saya terserang penyakit maag maka terpaksa saya memutuskan untuk kembali ke Soppeng. 
Delapan tahun kemudian tepatmya pada tanggal 20 September 1994 saya berkunjung lagi ke Pinrang untuk yg kedua kalinya. Saya star dari Makassar ke Pinrang dgn mobil sewa pada jam 10.00 pagi dan tiba pada jam 12.30 siang. 
Saat itu saya langsung ke istana Almarhum Datu Makkulawu. Namun sebelum saya masuk ke istana terlebih dahulu saya kebelakang istana untuk bertemu dengan Kino Bedde dan suaminya. Dalam pertemuan itu saya menanyakan keberadaan koleksi naskah lontara Datu Makkulawu namun jawaban beliau, naskah2 lontara itu sudah tidak ada lagi. Setelah mendengar tak lama kemudiaan saya pamit untuk maauk ke istana guna menemui Bau Ibrahim Bau Masepe.

Alhamdulillah siang itu saya diterima baik oleh Pung Bau Ibrahim dan langsung saya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan sambil memperkenalkan diri, "saya Ahmad Saransi asistennya Dr. Mukhlis Paeni dan Pak Mukhlis menitip salam buat Pung Datu". Alhamdulillah apa yg saya perkirakan ternyata jauh meleset dari perkiraan saya, beliau menerima baik saya bahkan beliau sangat familiar. Singkat cerita, saya menanyakan mengenai naskah lontara yg mereka miliki, namun jawabannya sama dengan Kino Bedde, "sudah tidak ada lagi Ndik". Itu jawaban beliau sama saya.
Lalu saya bertanya lagi sama beliau, siapa kira2 pemilik naskah lontara yang bisa saya datangi di Pinrang? 
Ada dua orang yg rekomendasikan untuk saya temui. Pertama H. A. Ismail TP atau dikenal dengan nama Puang Milu di jalan Garuda nomor 24 Pinrang dan H. Paewa di Kariango. 
Sebelum saya menemui kedua orang ini, terlebih dahulu Pung Bau menyampaikan kepada saya agar bila bertemu dgn mereka nanti tolong disampaikan bahwa saya adalah keluarganya Pung Bau. Khusus untuk H. Paewa, beliau dgn kerelaannya menuliskan sepucuk surat untuk disampikan sama. H. Paewa. (Lihat foto). 

Singkat cerita pada malam harinya saya ke rumahnya Puang Milu. Dalam pertemuan dgn beliau mereka bersedia meminjamkan empat buah naskahnya antara lain : Silsilah, Alquraan tulisan tangan dgn tempat memakai kayu, dst. Beliau meminta kepada saya agar naskah itu dijemput di rumah istri keduanya di Leppangeng Kecamatan Patampanua Pinrang. 

Keesokan harinya pada tanggal 21 saya berangkat ke Kariango untuk menemui H
Paewa. Alhamdulillah saya berhasil bertemu dengan H. Paewa. 
Dalam pertemuan saya dgn H. Paewa saya merasa sangat berbahagia karena beliau adalah maestro pembuat silsilah di Sulawesi Selatan khususnya di daerah Ajatappareng dan Bosowa. 
Perlu kami sampaikan bahwa pada saat saya bertemu H. Paewa waktu itu beliau sudah berumur 70 tahun. Dalam usianya itu beliau masih mampu membaca naskah lontara dan membuat silsilah dengan lincahnya. Untuk itu dalam kesempatan berharga itu saya meminta sama H. Paewa agar bersedia menuliskan silsilah orang tua saya, alhamdulillah tidak cukup satu jam H. Paewa berhasil menyusun silsilah keluarga org tua saya tanpa membuka referensi lontaranya. Sepertinya mereka sudah hafal diluar kepala.
Akhirnya kami menyadari bahwa kesuksesan saya menemui kedua tokoh itu sesungguhnya tidak terlepas dari jasa baik dari Bau Ibrahim Bau Massepe.
Olehnya itu sebelum saya menulis tulisan ini, saya terlebih dahulu membuat postingan di grup Diskusi Silsilah Trah Sulsel untuk menanyakan apakah beliau masih hidup? Ternyata jawaban teman2 khususnya jawaban dari putra Almarhum Ananda Assang Dg Sigarra bahwa beliau sudah meninÄ£gal pada tanggal 6 Januari 2009 atau 11 tahun yang lalu. 
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Semua kenangan tentang Almarhum akan selalu aku ingat hingga habis usiaku. Di sini aku hanya dapat mendoakan Almarhum agar segala amal baiknya diterima dan semua kesalahannya diampuni oleh Allah SWT.


Komentar

Postingan Populer